Sejauh Mana Kita Mengenal Profesi Kedokteran Hewan? (bag.2)

Suatu kali dalam acara Pengambilan Sumpah Dokter Hewan (PSDH) di salah satu FKH, disampaikan kepada seluruh mahasiswa yang akan menjadi dokter hewan saat itu untuk tidak khawatir akan bidang kerja, atau pekerjaan apa yang akan mereka geluti nantinya. Karena bidang kerja dokter hewan itu sangat luas, dokter hewan disiapkan untuk bisa bekerja di bidang apapun, termasuk, bahkan, salah satunya adalah sebagai pegawai bank…(?)
Adalah hak setiap lulusan untuk mempertahankan atau menanggalkan idealismenya sebagai penerus perjuangan profesi, tapi yang jelas adalah; “sebuah kehilangan yang sangat besar bagi profesi ketika ada dokter hewan yang tidak menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya dengan bekerja di bidang yang tidak ada kaitan sedikit pun dengan keilmuan/profesinya”(drh. Wiwiek Bagja).
Kutipan tersebut disambung oleh drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto, MS., Ph.D. ,masih dalam rangkaian pelatihan VISI (Veterinary Integrity and Skill Improvement )IMAKAHI FKH IPB tanggal 5 September 2009, bahwa ada 33 bidang pekerjaan profesi veteriner yang terdapat di 110 negara yang didata oleh OIE/ World Organization for Animal Health. Ke-33 bidang itu adalah; Food Technology, Food Inspection, Food Hygiene, Consumer Protection, Laboratories, Legislation, Artificial Breeding, Zoo, Veterinary Medicine, Clinical Health Care, Disease Control, Exotic Diseases, Epidemiology, Quarantine, Live Stock&Animal Product, Aquaculture, Wildlife, Parasitology, Teaching, Research & Development, Livestock Marketing, Publications, Economics, Import Animal Production, Administration, International Cooperation, Profesional Organization, Livestock Industry Organization, Nutrition, Enviromental Protection, Animal Welfare, Zoonoses, dan Laboratory Animals.
Lalu berbicara soal profesionalisme, drh. Bambang Pontjo menyampaikan bahwa setiap dokter hewan Indonesia harus mengetahui profesionalisme kedokteran hewan yang meliputi;(1)Berperilaku sebagai orang berprofesi veteriner;(2)Berkompeten yang cukup dalam melakukan pekerjaan veterinernya; dan (3)Kompetensinya dinyatakan dalam bentuk sertifikasi. Acuan untuk memenuhi butir 1 s/d 3 secara hukum merupakan tanggung jawab organisasi profesinya (PDHI), termasuk pula para tenaga pendukung pekerjaan dokter hewan.
Demikianlah sedikit dari sekian banyak pembahasan yang disampaikan dalam kuliah keprofesian VISI 5 September 2009. Tidak semuanya dapat disampaikan dalam tulisan ini dan yang sebelumnya, namun harapannya penulisan yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita, para penerus perjuangan profesi kedepannya, sebagai informasi dan motivasi untuk lebih mengenal profesi kedokteran hewan. Hal ini penting karena kita-lah yang akan memperkenalkan profesi ini ke masyarakat luas, ketika kita telah paham maka kita akan bisa berbicara dengan mudah. Mari persiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya, karena kemajuan profesi ada di tangan kita!Viva Vets!

…….Semoga semangat ini tetap ada diantara kita semua, teman-teman seangkatan (Aesculapius 43), adek kelas dan kakak kelas semuanya, pun rekan-rekan mahasiswa kedokteran hewan di seluruh FKH yang ada di Indonesia khususnya.
(Selesai…)

Direktur VISI/www.myvisifuntastic.blogspot.com

IMAKAHI UNAIR Gelar Peringatan WRD dan WZD 2009


Surabaya – Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia cabang Universitas Airlangga, yang dikenal juga sebagai IMAKAHI cabang UNAIR menggelar acara seminar nasional yang bertajuk “Membangun Kesadaran Masyarakat Terhadap Penyakit Zoonosis dan Kesejahteraan Hewan untuk Kesehatan Manusia”. Seminar ini merupakan salah satu acara dari serangkaian kegiatan yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Zoonosis Sedunia ( World Zoonosis Day) dan Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day) 2009 . Dr. C. A Nidom, MS., drh., beserta Drh. Wiwiek Bagja menjadi pembicara dalam seminar yang dihadiri oleh 300 mahasiswa kedokteran hewan yang merupakan mahasiswa Universitas Airlangga, delegasi Universitas Gajah Mada, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Wijaya Kusuma, serta delegasi dari Balai Litbang Dinas Peternakan Nusa Teggara Timur. Kedua pembicara tersebut adalah orang yang berkompeten di bidangnya masing – masing. Dr. C. A Nidom, MS., drh., adalah seorang ahli penyakit zoonosis, sementara Drh. Wiwiek Bagja adalah Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia ( PB PDHI).

Acara ini membahas banyak hal mengenai penyakit zoonosis yang terjadi di Indonesia. Selain membahas tentang apa dan bagaimana teknis penyebaran penyakit serta faktor – faktor yang berpengaruh terhadap zoonosis, seminar ini juga mengkaji bagaimana menyikapi penyakit zoonosis, dipandang dari berbagai disiplin ilmu. Beberapa displin ilmu yang digunakan untuk mengkaji permasalahan ini adalah dari bidang keilmuan kedokteran umum, antroplogi, ilmu sosial politik, disamping bidang keilmuan kedokteran hewan itu sendiri. Lewat seminar ini, disampaikan bahwa dalam menangani permasalahan penyakit zoonosis di Indonesia dibutuhkan sinergisitas antara pihak – pihak yang menangani kesehatan masyarakat ( public health) dengan kesehatan masyarakat veteriner ( veterinary public health). Hal ini berarti bahwa dalam menangani penyakit zoonosis di Indonesia dibutuhkan kerjasama yang solid antara tenaga medis (dokter) dengan tenaga medik veteriner ( dokter hewan). Hal ini memungkinkan untuk tercapai jika Negara memiliki Undang – Undang yang jelas dan tegas dalam mengatur dimana letak kewenangan profesi dokter hewan di Indonesia. Sayangnya, hal itu belum bisa terwujudkan, sekalipun UU no. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan telah disahkan.

Dalam seminar itu juga diadakan sesi Sarasehan, yang membahas bagaimana keadaan Profesi Dokter Hewan di Indonesia. Lewat kesempatan ini, Drh. Wiwiek Bagja memberikan informasi mengenai apa itu profesi medik veteriner ( dokter hewan), sejarah kedokteran hewan, kedudukan ilmu kedokteran hewan, apa saja bidang kerja yang merupakan lapangan dari profesi dokter hewan, peran serta fungsi dokter hewan, serta layanan apa saja yang bisa diberikan oleh seorang dokter hewan terhadap pasien. Dalam kesempatan ini, juga disosialisasikan rencana peluncuran buku berjudul “100 Tahun Dokter Hewan di Indonesia” yang akan diadakan pada bulan Januari tahun 2010.

Rangkaian acara lain yang diselenggarakan oleh IMAKAHI cabang UNAIR adalah aksi simpatik yang diadakan di depan Kebun Binatang Surabaya pada tanggal 04 Oktober 2009. Acara yang dimulai sejak pukul 08.20 sampai dengan 10.00 ini dilakukan dengan tujuan memberikan informasi masyarakat mengenai penyakit zoonosis, khususnya rabies. Selain itu, acara ini juga memiliki tujuan untuk mensosialisasikan profesi dokter hewan kepada masyarakat, khususnya peranan profesi dokter hewan dalam menangani penyakit zoonosis yang merupakan jenis penyakit terbesar yang melanda masyarakat. Aksi yang dilakukan adalah pembagian flyer yang berisi informasi mengenai rabies serta orasi mengenai WRD, WZD, dan pentingnya peranan dokter hewan dalam menjaga kesehatan masyarakat.

©by : Nicky Putri Santoso ( KH ’09 FKH UNAIR)

Konferensi Mahasiswa Kedokteran Hewan se-Asia di Korea selatan

Konferensi mahasiswa Kedokteran Hewan se-Asia di Korea selatan ini di mulai dari tanggal 9 agustus 2009 sampai 16 agustus 2009, pada Konferensi tersebut Indonesia mengirimkan dua delegasinya, Dordia Anindita (FKH IPB) dan Imron Rosyadi (FKH UGM).
Pada tanggal 10 Agustus merupakan Seoul tour registration dimana setiap delegasi dari tiap Negara melakukan registrasi dan pada tanggal tersebut masih menunggu beberapa delegasi dari jepang yang mengalami keterlambatan. Pada hari ini di sore hari kita di ajak berkeliling kota seoul untuk sejenak menghilangkan rasa lelah selam di perjalan ke korea dan kita di ajak berkunjung ke salah satu istana di Korea. Pada momne ini semua delegasi dari tiap Negara di akrabkan dan masing-masing saling memprkenalkan diri dan beradaptasi dengan iklim di korea itu sendiri.
Di hari ke 2 bertempat di Seoul Natinal University tepatnya di Fakultas Kedokteran Hewannya. Disana kita di ajarkan pelajaran bahasa korea dalam program kegiatan Korean Language Lecture. Dalm program ini tiap-tipa delegasi dipasangkan dengan peserta dari korea unutk mengejarkan beberapa bahasa korea. Kemudian dilanjutkan dengan General Assembly I diman pada acara ini merupakan acara pembukaan dari rangkain acara ini. Acara di buka oPresident IVSA Korea dan oleh Ketua dari Persatuan Dokter Hewan Korea. Kemudian dilanjutkan pada perkenalan dari masing-masing delegasi dari tiap Negara sekaligus mempresentasikan masing-masing Asosiasi mahasiwa kedokteran hewan di Negaranya masing-masing beserta fakuktas keodkteran hewan di negera nya masing-masing.
Pada hari ke 4 masih bertempat di seoul National University di fakultas kedokteran hewannya. Pada hari ke 4 ini kita diberikan materi berupa anesthesia dari salah satu dosen di seoul national university yang kemudian dilanjutkan dengan lanjutan dari general Assembly yang kemarin. Sehabis makan siang kita dikelompok-kelompok kan berdasarkan fakus diskusi yang kita pilih. Ada 4 pilihan grup diskusi yaitu tentang SYMCO yaitu dunia satwa liar, IVSA itu sendiri, Program Student Exchange, dan KVSA (Korean Veterinary Student Association). Sehabis diskusi kita melnjutkan berkeliling fakultas kedokteran hewan di seoul National University.

Pada tanggal 13-15 Agustus acara asian conference tidak lagi berada di soul, tapi kita berangkat ke suatu tempat yang bernama Jinju tepatnya di Gyeong Sang Natinal University. Di tempat tersebut kita mengikuti acara KVSF (Korean Veterinary Student Festival). KVSF ini dihadiri oleh mahasiwa dari hampir semua fakultas kedoteran hewan se korea. Pada acara ini kita di kenalkan beberapa budaya korea dan kita mendirikanAsian Stand dimana kita memperkanalkan beberapa makanan, saouvenir, fakukltas dan Negara kita masing-masing kepada para pengunjung yan notenbene adalan semua mahaiwa kedokteran hewan se-korea. (Imron Rosyadi, Ketua BEM FKH UGM 08-09)

LPJ IMAKAHI dlm IVSA Asia Conference 2009