Perjalanan sejarah perjuangan mahasiswa kedokteran hewan Indonesia (Bagian I – Awal mula ISMAKAHI)

Selalu jika dirunut kebelakang perjalanan sejarah akan mejadi nostalgia serta patokan perjuangan didepan, kepingan sejarah Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (IMAKAHI) rasanya kurang lengkap jika belum menyampaikan fakta dari para saksi sejarah, berdasarkan wawancara dengan salah satu pendiri awal IMAKAHI Prof. Dr. drh. Imam Mustofa.,Mkes., oleh Tim Investigasi sejarah IMAKAHI di FKH Unair (berdasarkan keputusan PraMunas) berikut disampaikan petikan awal sejarah tentang IMAKAHI (bagian I).

Berawal dari tahun 1979, Pemerintah melalui program NKKBKK (Normalisasi Kehidupan Kampus melalui Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang bertujuan agar setiap kegiatan organisasi kampus terkoordinasi oleh pihak Rektorat menghendaki semua organisasi berorientasi di Kampus. Sosialisasi program ini gencar dilakukan oleh pemerintah, selanjutnya dengan penanggung jawab Prof. Nastio (Dubes UNESCO), delegasi dari Unair menghadiri acara sosialisasi yang berisi briefing dan pengarahan tentang pembentukan Ikatan Senat di tiap-tiap kampus, termasuk di Fakultas Kedokteran Hewan. Setelah acara tersebut ditunjuklah penanggungjawab dari mahasiswa FKH Unair yang selanjutnya membentuk tim untuk segera merealisasikan tujuan program NKKBKK ini. Waktu terus berjalan sampai pada Tahun 1980an terbentuklah organisasi-organisasi dengan tujuan seperti yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui program NKKBKK tersebut seperti, Ikatan Senat Farmasi Indonesia, Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Indonesia dan organisasi kampus lainnya sesuai dengan disipilin ilmunya temasuk Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia atau yang dikenal sebagai ISMAKAHI. Adapun wkatu itu yang ditunjuk menjadi promotor dari DIKTI adalah mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga. Hal ini dikarenakan karena keterbatasan jarak dan waktu, informasi tidak bisa langsung tersebar merata, Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta saat perintis awal terbentuknya ISMAKAHI telah menyelesaikan studinya di kampus, sedangkan Institut Pertanian Bogor menolak NKKBKK. Bergulirnya waktu akan memetakan catatan sejarah tentang ISMAKAHI dan IMAKAHI, awalan ini akan dilengkapi pada bagian-bagian kepingan sejarah IMAKAHI selanjutnya. (yudhan)

Laporan Pelaksanaan Program VISI 2009

Sejak diluncurkan pada tanggal 9 Mei 2009, VISI telah melaksanakan 6 kali In House Training, 1 kali kunjungan lapang/field trip, dan outbound. Kemudian diakhiri dengan ujian kelulusan siswa dan ditutup dengan sebuah studium general pada tanggal 19 Desember 2009. Sebagai sebuah pilot project, VISI akan direkomendasikan untuk bisa dilaksanakan juga di tiap cabang IMAKAHI FKH se- Indonesia. Berikut Laporan Pertanggungjawaban kami selama berkarir dalam VISI CORPORATION tahun ini, dapat didownload di www.myvisifuntastic.blogspot.com

Sejauh mana kita mengenal profesi kedokteran hewan?(bag.1)

Maraknya kasus Zoonosis seperti Avian Influenza, apalagi pandemi flu A H1N1 akhir-akhir ini semakin mengangkat nama profesi kedokteran hewan ke permukaan, sedikit demi sedikit, walaupun masih ada beberapa kalangan yang belum tahu betul apa itu profesi kedokteran hewan. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita (mahasiswa kedokteran hewan) turut memperkenalkan pentingnya keberadaan profesi kita ke masyarakat. Namun pertanyaannya adalah;”Sejauh mana kita mengenal profesi kedokteran hewan?”
Dalam rangka menanamkan nilai-nilai keprofesian, memahamkan kembali apa itu profesi kedokteran hewan, serta menumbuhkan lagi rasa bangga akan profesi, VISI (Veterinary Integrity and Skill Improvement) IMAKAHI FKH IPB menyelenggarakan kuliah keprofesian yang bertajuk “Wawasan Keprofesian (Menatap Kehidupan Profesi; Kini dan Yang Akan Datang)”, dengan pemateri drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto, MS., Ph.D. (Ketua Komisi III Bidang Akreditasi, Sertifikasi, Kompetensi PB PDHI; Sekertaris Majelis Pendidikan Profesi Kedokdteran Hewan; Ketua Umum Asosiasi Patologi Veteriner Indonesia; Ketua Departemen Klinik, Reproduksi & Patologi FKH – IPB). Kuliah keprofesian ini diselenggarakan pada tanggal 5 September 2009 di RK.FKH A Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, dan merupakan pertemuan ke 6 dari rangkaian pelatihan VISI IMAKAHI FKH IPB.
Siswa VISI diajak untuk menelaah kembali profesi kedokteran hewan lebih dalam, beberapa diantaranya disampaikan bahwa KEDOKTERAN HEWAN merupakan bidang ilmu yang hampir sama tuanya dengan kedokteran manusia. Pada awalnya ia merupakan pengembangan dari ilmu kedokteran yang memerlukan perbandingan (comparative medicine) serta memerlukan hewan coba untuk menemukan penyembuhan penyakit manusia. Yang selanjutnya profesi ini dikenal sebagai Profesi Veteriner. Sementara Veteriner sendiri berarti segala hal yang terkait dengan hewan dan penyakit-penyakitnya.
Drh. Bambang Pontjo juga mengungkapkan bahwa saat ini sudah terjadi salah kaprah atau otomatisasi bahwa Veteriner diistilahkan dengan Kesehatan Hewan sehingga ada yang ingin mendirikan Fakultas KESEHATAN Hewan dan bukan Fakultas KEDOKTERAN Hewan. Dengan istilah”Kesehatan” diinginkan bahwa Siapa Saja boleh melakukan langkah-langkah kesehatan. Padahal langkah-langkah untuk kesehatan ada yang bersifat UMUM dan ada yang KHUSUS dengan ilmu kedokteran hewan (veteriner). Di bidang kesehatan manusia, ilmu-ilmu KESEHATAN adalah yang tertinggi dan tertutup (tidak dapat digantikan oleh orang awam) adalah Ilmu Kedokteran. Pendukungnya adalah ilmu-ilmu Farmasi,Gizi,Keperawatan ,Kerumah-sakitan, Kesehatan Masyarakat, dan lain-lain. Di seluruh dunia ,profesi dokter diistilahkan dengan “the healing profession” atau“ Profesi Penyembuh” dengan dukungan “Ahli Obat”.
Lantas, apa sebenarnya fungsi utama dari dokter hewan? Perlu dipahami bahwa Ilmu-ilmu Kedokteran Hewan dipergunakan untuk menangani urusan mengenai hewan dan penyakit-penyakitnya (fungsi veteriner) berkaitan dengan jaminan keamanan (security) termasuk tidak mengambil resiko dapat mengganggu kesehatan (safety) baik dari hewan ke hewan dan utamanya dari hewan ke manusia yang bertujuan untuk menjamin kesehatan manusia, kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan dengan mengacu kepada pedoman-pedoman dan informasi internasional. Penerapan ilmu medik (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) serta rambu-rambu profesi kedokteran (kode etik dan sumpah dokter). Ilmu dan rambu kedokteran adalah untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan keilmuan dan keahlian (mal praktek dan mal etik) yang dapat membahayakan dan merugikan masyarakat.

(Bersambung…)

Direktur VISI/www.myvisifuntastic.blogspot.com
*dikembangkan dari materi kuliah keprofesian VISI tgl 5 September 2009, pemateri : drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto, MS., Ph.D.