Tanggal 24 Juni lalu Pengurus Ikatan Mahasiswa Cabang UGM bersama dengan HSTP FKH UGM bertempat di Sekertariat HSTP FKH UGM., mengadakan diskusi tentang swasembada daging Indonesa, dalam diskusi ini menghadirkan Ketua PB IMAKAKAHI Bashori dan Ketua PB ISMAPETI (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia) sebagai pemantik diskusi yang dilaksanakan dan memaparkan pendapatnya mengenai pencapaian dan hal – hal apa saja yang menjadikan program swasembada daging di Indonesia belum terlaksana.
Swasembada daging, jika dilihat konteks frasanya tidak memiliki makna yang jelas. Pertanyaan yang meliputi daging apa, untuk siapa dan menguntungkan siapa, belum bisa dijawab. Kejelasan tentang kapan swasembada daging akan terwujud pun tidak tampak, terlihat dari semakin mundurnya realisasi program ini. Jika program ini baru dicanangkan, otomatis selama ini Indonesia belum mencapai swasembada.
Ada berbagai tolak ukur, seperti jumlah daging yang tidak mencukupi di pasaran, tingkat konsumsi daging yang rendah atau justru ketidakmampuan masyarakat untuk membeli daging (baca : daging sapi) yang memang harganya terbilang mahal untuk sebagian besar masyarakat. Sekarang beralih ke komoditasnya yaitu sapi itu sendiri. Dalam swasembada ini konteksnya juga tidak jelas, sapinya berasal dari mana. Apakah memberdayakan sapi lokal, mengimpor bibit sapi dari luar negeri lalu diternakkan secara intensif di Indonesia, atau hanya mengimpor sapi hidup lalu sesampainya di Indonesia tinggal dipotong.
Pendapat tentang impor sapi besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan lokal. Solusi tersebut pun dirasa kurang pas karena beberapa kasus sempat menodainya, yaitu sapi impor illegal. Bicara tentang masalah impor, tersirat bahwa untuk kelas masyarakat tertentu lebih memilih daging impor karena kualitasnya yang dianggap lebih baik. Atau dengan kata lain setiap daging memiliki konsumen tertentu. Jadi, beberapa pendapat yang menyebutkan swasembada=stop impor, sepertinya mustahil untuk dilakukan. Selain itu, kendala yang dihadapi adalah kualitas SDM, birokrasi, manajemen dan konsistensi program yang masih perlu diperbaiki. Hambatan lain juga meliputi pakan, kesehatan hewan, gangguan reproduksi dan lingkungan yang optimal.
Jika dilihat dari kenyataan di atas berpikir realistis (baca : swasembada daging mustahil tercapai) itu perlu, namun tidak ada salahnya jika kita tetap optimis bahwa swasembada daging ini dapat terwujud mengingat potensi yang ada diantaranya kuantitas SDM, bibit unggul lokal, lahan luas serta kondisi lingkungan yang mendukung. Kuncinya adalah realisasi dan konsistensi program agar swasembada daging bisa terwujud.
Ditulis Oleh : Ananda Tiarasari IMAKAHI Cabang UGM
Filed under: General







semoga tujuan peningkatan swasembada daging trus maju dan berkembang di indonesia sehinnga kebutuhan protein hewani terpenuhi..
smoga tujuan peningkatan swasembada daging dapat trus terpenuhi dan berkenbang
semoga tujuan peningkatan swasemabada daging dapat trus maju dan berkembang.
semua pihak yang terkait dalam sweswmbada daging harus bersatu padu agar program ini tercapai dan indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri tanpa harus impor pada negara lain, khususnya pada pemenuhan kebutuhan daging nasional.
mari bersatu padu,,
mensukseskan swasembada daging ini,,,,
ahoy…ahoy,,,ahoy,,,
Mari kita sukseskan swasembada daging ini, mulai dengan apa yang bisa kita lakukan utk itu, tak penting itu besar atau kecil, yang terpenting memiliki arti demi pengembanga dunia peternakan indonesia.