IMAKAHI GETARKAN TAMAN FLORA

Minggu, 19 Juni 2011 bertepatan dengan peringatan World Zoonosis Day (WZD) yang sebenarnya diperingati setiap tanggal 6 Juli. IMAKAHi cabang UNAIR memusatkan peringatan World Zoonosis Day tersebut di Taman Flora yang akrab dikenal dengan kebun Bibit. Peringatan ini dikemas dengan apik oleh rekan-rekan IMAKAHI. Ada berbagai macam acara yaitu aksi, teatrikal, pembagian selebaran, periksa hewan gratis dan acara seru lainnya. Dimulai pukul 07.00 rekan-rekan IMAKAHI mulai membagikan selebaran yang berisikan tentang Zoonosis baik macam-macam penyakit Zoonosis maupun penanggulangannya. Kemudian dilanjutkan dengan aksi dengan menggunakan Body box dan megaphon sambil mengelilingi Taman Flora. Aksi itu berisikan tentang Zoonosis yang masih sangat awam ditelinga masyarakat umum. Dalam aksi itu masyarakat dihimbau untuk waspada terhadap zoonosis. Dengan merebaknya Zoonosis masyarakat diminta untuk tidak menjauhi hewan namun yang harus dijauhi adalah penyakitnya.

Selain aksi tersebut, acara yang tak kalah seru yaitu teatrikal yang dimainkan sendiri oleh rekan-rekan IMAKAHI cabang UNAIR. Teatrikal tersebut menyedot perhatian pengunjung Taman Flora yang pada hari itu memadati kawasan Taman Flora. Teatrikal itu berisi tentang penyakit Zoonosis dan penganggulangannya. Dengan costum yang sangat penarik disertai pengahayatan peran yang apik membuat Teatrikal tersebut menjadi tontonan Pilihan bagi pengunjung Taman Flora. Namun ada hal yang menarik lagi Yakni Check Up hewan Gratis. Dalam hal ini rekan-rekan IMAKAHI menggandeng 2 dokter Hewan sekaligus untuk memeriksa hewan yang datang. Hasilnya Check up hewan ini lumayan ramai didatangi pasien mulai dari Anjing,kelinci sampai hamster juga diperiksakan dalam Check Up Gratis ini. bahkan stand Check Up ini juga ramai didatangi pengunjung yang ingin melihat beberapa hewan yang sedang diperiksa

Serangkaian acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan pada masyarakat luas tentang Zoonosis, macam-macam penyakitnya, akibat-akibatnya bahkan sampai penanggulangannya. Acara ini dipusatkan di Taman Flora dikarenakan animo masyarakat yang cukup besar untuk mengunjungi Taman Flora ini. dengan banyaknya pengunjung maka sasaran dari acara ini sesuai dengan yang diinginkan yakni masyarakat umum. Acara ini berakhir pukul 11.00 WIB dan IMAKAHI UNAIR benar-benar menggetarkan Taman Flora dengan Kepeduliannya terhadap bahaya penyakit Zoonosis. Semoga tidak hanya IMAKAHI saja yang tergerak untuk melakukan acara-acara yang bermanfaat dan memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat luas ditengah Peran Dokter Hewan di Era Global.

 

D’ROTHS GOES TO BATUR

SALAM LESTARI!!

     Itulah teriakan hangat dari anggota Minpro Satwa Liar “ROTHSCHILDI” sebelum melaksanakan kegiatan pelantikan anggota baru di Desa Batur, Kec. Kintamani, Kab. Bangli tepatnya disekitar kaki gunung batur pada tanggal 31 Mei sampai 2 Juni 2011.

     Waktu menunjukkan tepat pukul 15.00 Wita pada 31 Mei 2011. Peserta pelantikan berkumpul di depan gedung kampus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Denpasar. Sebelum berangkat para peserta mendengarkan beberapa sambutan dari ketua panitia yaitu Komang Arya Hendrayana, ketua Minpro Satli Rothschildi Brahma Tusta Bhirawa dan dari BEM PC IMAKAHI FKH UDAYANA yang diwakilkan oleh I Gusti Agung Made Armada Hambarsika. Setelah sambutan dilanjutkan doa bersama untuk memohon keselamatan dalam perjalanan. Setelah berdoa perjalanan dimulai pada pukul 15.30 Wita. Sampailah dilokasi pada pukul 19.00 Wita, Para peserta bergegas untuk mendirikan tenda sesampai mereka disana, sebelum membangun tenda para peserta dan panitia menyantap makan malam terlebih dahulu. Kemudian tenda mulai didirikan, setelah tenda berdiri tegak kemudian barang-barang peserta dan panitia mulai dirapikan untuk selanjutnya beristirahat, Sebelum tidur para peserta dikumpulkan dan diberi arahan pada pukul 22.00 Wita setelah itu para peserta dipersilahkan istirahat karena tepat jam 07.00 wita (1/6) pendakian gunung batur akan dilaksanakan. Sirine berbunyi, tanda waktunya bangun pagi. Karena sudah mulai subuh, kemudian dilaksanakan olahraga pagi dengan berlari dan senam pagi meski lari pakai senter. Setelah itu dilanjutkan MCK dan ISHOMA. Setelah waktu menunjukkan pukul 07.00 wita (1/6). dilanjutkan sarapan. Setelah sarapan, pendakian gunung batur dimulai, saat itu peserta yang terbagi dalam 3 kelompok yang diketuai (Kiki 09 bernama Panthera tigris, Merry 09 bernama Naja sputatrix, dan Imam 08 bernama Lion king) .

     Selama perjalanan kurang lebih 3 jam peserta beradu ilmu di 3 pos yang ada,,, selama 3 jam perjalanan yang turun bukit, naik bukit, lewat bebatuan, lewat pasir, jalan menanjak yang sangat menguras tenaga sehingga membuat peserta sangat kelelahan, sesampai di pos 3 mampir untuk istirahat dan makan. Kemudian melanjutkan perjalanan lebih dekat terhadap kawah gunung batur, dengan sisa2 tenaga yang ada perjalanan dilanjutkan dengan nafas terengah-engah, sesak nafas, pusing dan segala macamnya akhirnya sampailah di dekat kawah gunung, dan pada akhirnya rasa lelah itu sirna karena diatas mendapatkan pemandangan yang luar biasa indah karena dari atas dapat melihat gunung abang, gunung agung dan danau batur yang mengagumkan, para peserta dan panitia yang masih mempunyai cadangan tenaga melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung batur Sesampai mereka diatas, wah. Luar biasa lebih indah dari pada yang agak dibawah tadi, karena disini benar2 serasa ada diatas awan tapi udara sangat dingin. Dan ternyata salah satu dosen FKH UDAYANA Dr. drh. I Wayan Batan, MS. ikut naik hingga kepuncak, wah luar biasa hebat bapak dokter kita yang satu ini. Setelah beberapa lama diatas, akhirnya saatnya untuk turun lagi menuju tenda dan dengan santai peserta dan yang lainnya turun dengan sisa2 tenaga yang ada mereka turun dan pada akhirnya sampai dibawah, dan dilanjutkan ISHOMA. Tidak terasa malam tiba, dan persiapan pelantikan dilaksanakan (20.00 wita). sebelum acara pelantikan dimulai setiap peserta diwajibkan untuk mengikuti sebuah kegiatan yang dimana nantinya disini akan diuji keseriusannya mereka di Minpro Satwa Liar “ROTHSCHILDI” FKH UNUD.

     Setelah acara pelantikan dimulai, sebelum pelantikan dimulai ( acara pengucapan sumpah satli). Panitia mengumumkan Raja dan Ratu pelantikan kali ini yang mana nanti akan memimpin yang lain dalam pengucapan sumpah satli. Dan yang terpilih sebagai Raja pelantikan adalah Deny ’10 dan Ratu pelantikan adalah Adven ’09. Mereka menyalakan api unggun yang telah tersedia secara simbolis, dan dengan terpilihnya mereka kemudian dilanjutkan dengan pengucapan sumpah dilakukan. Setelah pengucapan sumpah dilanjutkan dengan penyematan tanda bahwa sudah dilantik oleh Bapak Dr. drh. I Wayan Batan, MS. Selaku pembina Minpro Satli Rothschildi bersama dengan Gubernur BEM PC IMAKAHI UDAYANA I Made Angga Prayoga. Setelah serangkaian acara tersebut dilaksanakan, dilanjutkan dengan atraksi dari kelompok-kelompok yang ada, meliputi : Tari kontemporer (Lion king), Puisi tentang satli (Panthera tigris), Drama tentang satli (Naja sputatrix), dance, menyanyi, dll.

     Malam itu terasa sangat istimewa bagi para peserta yang dilantik karena saat itu bukanlah akhir dari segalanya melainkan merupakan awal dari sebuah perjuangan yang ada untuk menjadikan Minpro Satwa Liar Rothschildi lebih baik dan mampu melaksanakan apa yang telah diucapkan dalam sumpah satli. Malam itu terasa sangat dingin, bahagia dan setelah itu semua peserta dan panitia berserta pembina beristirahat.

       Keesokan paginya (2/6) mereka sarapan, dan bersiap-siap untuk pulang dengan merobohkan tenda dan membersihkan lingkungan yang ada karena membersihkan lingkungan menurut mereka merupakan salah satu bentuk pelestarian alam beserta isinya. Tepat jam 09.00 wita mereka pulang yang dimana sebelumnya diawali dengan doa semoga selamat sampai tujuan. Salam Lestari.!!!   (Denny FKH UDAYANA)

Grand Launching VISI UGM 2011

Grand Launching Veterinary Integrity and Skill Improvement (VISI) IMAKAHI cabang UGM dilaksanakan pada hari Minggu, 1 Mei 2011 atau bertepatan dengan Grand Launching VISI cabang IPB. VISI acara pertama dilaksanakan di Ruang Theater ELISA, RSH Soeparwi. Acara kali ini diikuti 18 peserta yang terdiri dari 13 pengurus dan 5 anggota. Di antara peserta juga hadir M. Sahar Firdaus Pjt. sebagai undangan dari PB IMAKAHI dan Rabiyatul Adawiyah sebagai undangan dari BPI.

Acara dimulai pukul 08.30 dengan pembukaan, sambutan Direktur VISI cabang UGM, M. Arfiansyah L., dilanjutkan sambutan dari Penanggung Jawab IMAKAHI cabang UGM, Annisa Ulliyani N.R. Rangkaian kegiatan VISI dibuka oleh drh. Sony sebagai perwakilan dari PDHI cabang Yogyakarta. Materi yang disampaikan pada hari ini tentang Deskripsi dan Wawasan Veteriner. Pemateri kali ini adalah drh. Putut Purnomo. Beliau adalah dokter hewan bagian Virologi di Balai Besar Veteriner.

Beliau menyampaikan bahwa ranah klasik profesi dokter hewan, yaitu penyakit hewan, kesmavet, dan perbaikan peternakan, sedangkan ranah kreasi baru lahan veteriner: politik, ekonomi, sosial, seni budaya, militer, jurnalistik, BATAN, BSN-KAN, dan metafisika. Beberapa permasalahan yang terkait dengan dokter hewan di Indonesia adalah AI yang tidak beres, re-emerging antrhax, Brucellosis (khususnya pada sapi perah), leptospirosis, rabies, John’e disease (disebabkan oleh Mycobacterium paratuberculosis), BVD-IBR, deworming, parasit darah dalam sapi BX, logam berat pada BAH, penggunaan formalin pada BAH berkelanjutan, oplosan daging babi pada bahan pangan seperti bakso, RPH jalanan tidak memenuhi standar, re-emerging rabies, pengawasan lalu lintas hewan, produktivitas sapi potong dan perah rendah, harga pakan mencekik, market shock sapi, skandal daging sapi, dan signifikasi kontribusi otoritas veteriner dalam penurunan penganguran dan kemiskinan.

drh. Putut juga bertanya kepada peserta,”what would you like to be? Akan menjadi apa kita suatu saat nanti. Kita menuntut ilmu bukan hanya untuk belajar tetapi juga untuk menentukan masa depan.” Beliau melanjutkan,” kita harus berpikir dengan pola sirkuler, jangan berpikir secara linier. Jadi, kita harus bisa memutar otak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara yang baik dan meningkatkan kemampuan kita. Kalau kita berpikir secara linier kita akan sulit untuk menghadapi masa depan.”

Acara dilanjutkan dengan pemutaran film fiksi berjudul “Juui Dolittle” yang berceritakan tentang kehidupan seorang dokter hewan di Jepang. Para peserta terlihat menikmati film. Bahkan kebanyakan meminta kopian film kepada pihak manajemen. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke ruangan yang digunakan di RSH. Soeparwi seperti ruang pemeriksaan, ruang obat, ruang operasi, ruang karantina, sampai ruang rontgen.

Kunjungan PC IMAKAHI UGM ke PDHI Jateng I

Kunjungan ke PDHI Jateng I dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 8 Mei 2011. Kegiatan ini merupakan salah satu realisasi program kerja Biro Informasi dan Komunikasi PC IMAKAHI UGM sekaligus memfasilitasi panitia Pengmasnas yang rencananya akan diadakan di Boyolali pada bulan September 2011.  Selain dari Pengurus cabang IMAKAHI , kunjungan ini dihadiri oleh PB IMAKAHI yang diwakilkan oleh Hizriah Alief Jainudin Selaku Ketua Departemen Informasi dan Komunikasi PB IMAKAHI dan M. Sahar Firdaus Selaku Sekjen PB IMAKAHI. Rombongan dari IMAKAHI disambut dengan hangat oleh pengurus PDHI Jateng I di Sekretariat Bakorluh Jawa Tengah, kompleks Tarubudaya Ungaran.

Dalam pertemuan ini, diawali dengan pembukaan dan sambutan dari drh. Harjuli Hatmono, selaku ketua I PDHI Jateng I sekaligus perkenalan dengan anggota PDHI Jateng I yang lainnya. Lalu dilanjutkan dengan penyampaian tujuan kunjungan oleh penanggung Jawab Cabang IMAKAHI UGM, Annisa Ulliyani serta perkenalan dengan rombongan dari UGM.

Dalam forum ini, dilakukan diskusi dan saling tukar informasi antara IMAKAHI UGM dengan PDHI Jateng I. Banyak info yang digali dari pertemuan ini, diantaranya pembagian wilayah PDHI di Jawa Tengah yang ternyata ada 6 wilayah. Untuk PDHI Jateng I sendiri wilayahnya meliputi Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang sampai Salatiga. Untuk jumlah anggota, pada 2010, tercatat 110 dokter hewan dan itupun masih banyak yang belum terdaftar. Sedangkan untuk kepengurusan masih ditangani oleh dokter hewan pemerintah.
PDHI Jateng I pun mendukung rencana kegiatan Pengmasnas dan siap memberikan bantuan teknis serta gambaran di lapangan. Disampaikan pula pengalaman dari pihak PDHI Jateng I yang pernah mengadakan kegiatan bakti profesi di Grobogan dengan bentuk kegiatan diantaranya : penyuluhan, pemutaran film, pengobatan massal, PKB, pasar murah dan sembako murah. Rencana kegiatan penyuluhan pun harus dapat memecahkan masalah dan mengubah perilaku, misalnya saja masalah klasik yaitu sanitasi. Diharapkan dengan kunjungan ini dapat menjadi inspirasi bagi panitia Pengmasnas.

Pemilihan wilayah di Boyolali juga dirasa cocok. Mengingat potensi ternak dan pengolahan hasil produksi yang perlu ditingkatkan serta dukungan dari pemerintah. Kegiatan Pengmasnas merupakan sebuah event besar, harus ada koordinasi yang baik dengan PDHI maupun dinas terkait. Selain itu perlu koordinasi yang baik serta sarana dan prasarana agar kegiatan ini berlangsung dengan baik dan hasilnya dapat dirasakan oleh seluruh pihak.

Pertemuan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan membina hubungan baik dengan PDHI Cabang. Terimakasih kami sampaikan kepada drh. Eko Sutarti, drh. Harjuli Hatmono, drh. M. Hamam, drh. Hermawan Setiadi serta pengurus PDHI Jateng I yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Semoga dengan kunjungan ini dapat memperluas pola pikir pandang dan bermanfaat bagi semua. Viva veteriner!!!

Ditulis Oleh Ananda Tiarasani Departemen Informasi dan Komunikasi IMAKAHI UGM


Avian Influenza Reported in Indonesia

The first reported outbreak of highly pathogenic avian influenza (HPAI) type H5N1 in Indonesian poultry occurred in August 2003 and was confirmed in a report to the World Animal Health Organisation (OIE) in 2004. Since that time HPAI has spread across much of the country and has now been reported in 30 of 33 provinces. HPAI is now considered endemic in bird populations in much of the country. Human cases of H5N1 have been reported since mid-2005 and Indonesia now has the highest number of human fatalities worldwide (83 fatalities from 104 known cases of HPAI in humans as of 16 August 2007). Most human cases (~80% of all cases) have been reported from Western Java, consistent with the hypothesis of higher human-poultry densities being associated with higher risk of exposure of people to virus. According to government livestock statistics 2005, there are more than 286 million native chickens, 98 million broiler chickens and 34 million ducks in Indonesia in sectors 3 and 4. Poultry are distributed unevenly across Indonesia, with 60% in Java, 40% in Sumatra, 6%in Kalimantan and 4% in Sulawesi.

The distribution of birds closely follows the distribution of human population. Sixty percent of Indonesian households keep poultry for household consumption or for ready cash sale of birds and eggs. Eighty percent of poultry are sold in 13,000 live-bird markets across the country with little or no health inspection or biosecurity, representing an important risk for virus transmission between poultry and other birds including water birds. Hundreds of village hatcheries, most without biosecurity or health-inspection, distribute day-old chicks and ducklings to Sector 3 producers. Sector 1 and 2 commercial poultry farms and hatcheries generally practice a higher level of biosecurity than village chickens though their biosecurity practices are understood to be variable and health status remains largely unknown.

Approximately 10.5 million birds were culled in 2004 in an attempt to eradicate the disease from Indonesia. Indonesia started to vaccinate against HPAI early in 2004 and continues to use vaccine in outbreak or infected areas throughout the country. There are indications that there are insufficient vaccine stocks to ensure vaccination of all birds in all affected regions. DIC staff are involved in structured surveillance of birds to monitor for serological response to vaccination. Results appear to indicate that between 50-90% of sampled birds had no circulating antibody, indicating that vaccination is not currently achieving acceptable levels of protection. In some cases vaccine shortages mean that vaccination is limited to ring-vaccination around known outbreak locations. The estimated cost of the vaccine was Rp 300 per bird-dose. Larger commercial layer operations buy their own vaccine. Broiler operations generally do not vaccinate, mainly because their grow-out period is short enough to be associated with lower risk of exposure and diseaseand they may use an all-in all-out management. Indonesian government support provides compensation in the event of disease for village chickens. Over time reports of disease outbreaks have declined. Reporting appears to indicate that more outbreaks may be occurring in village chickens compared with commercial operations though it is understood that there are .

There were 454 confirmed HPAI outbreaks in Indonesia in 2006 with 247 (54%) of these occurring in Sumatra, 108 (24%) in Java, 53 (12%) in Sulawesi and 29 (6%) in Nusa Tenggara. The pattern of outbreaks closely follows the population density for birds and people. Positive test results were mostly reported from chickens (80%), ducks (6%), quail (5%), and also from a range of other birds. Of the positive results reported for chickens, 46% 5% broilers, 3% layers and the remainder were either unclassified or other types. Underreporting is acknowledged as a major problem and reported outbreak statistics may notaccurately represent actual disease occurrence.Government decentralization has had significant consequences for HPAI control. Since the central government shifted autonomy from the provinces to the districts, the latter are now in full charge of activities and budget allocation with central treasury funds being passed directly to districts and not to provincial level government. This shift in civil service administration has had varying and predominantly adverse consequences for the management and resourcing of district animal health services and for movement of data and reporting from local animal health agencies to central government.

There are also acknowledged deficiencies in the national legal and regulatory framework that interfere with the ability of government and private veterinary services to carry out and enforce emergency disease control measures. For example DGLS staff may not have sufficient regulatory power to complete a number of functions that may be considered critical to effective disease control including: entering poultry farms, destruction of poultry (unless by special decree), setting up roadblocks to control poultry movement, closing poultry markets etc. In an outbreak it is understood that official policy is to cull birds in affected villages within a defined in-contact area ranging from 100 metres to 1 km. There are compensation programs involving payment to owners for slaughter of in-contact birds though the level of compensation appears to be lower than the commercial value of a bird and the programs may not be implemented in all parts of Indonesia. As a result it appears to be common for farmers to conceal mortalities that may be due to HPAI and immediately sell or move surviving chickens from affected villages in order to salvage some income. This also means that birds dying from HPAI are disposed of in an ad hoc and indiscriminate way (tossed in the field) and may further contribute to spread of viruswas completed using a pseudo-random process ie 2 districts were selected from each province and farms then convenience sampled within selected districts. An important conclusion is that relatively small percentages of birds have circulating antibody (%positive is calculated based on the combination of low plus high serological response results). Between 50 and 90% of birds sampled had no detectable antibody levels meaning that they would be susceptible to circulating HPAI virus. These results indicate that it is very difficult to assess vaccine efficacy because of the low levels of serological response. Results may also be used to modify estimated impacts of circulating virus on levels of morbidity and mortality. There is considerable activity by Indonesian government agencies and international aid agencies focused on capacity for animal disease control and specifically for HPAI in bird populations. There is a National Committee for Avian Influenza Control and Pandemic Influenza Preparedness3, known as Komnas FBPI, that provides a coordination and facilitation role to the Indonesian government response to the H5N1 avian influenza virus. Komnas FBPI is advised by a panel of experts and is in consultation with the key animaland human-health professional associations in Indonesia. Komnas FPBI has six associated task forces that provide direction on: research and development, animal health, human health, vaccine and anti-viral medicines, and mass communication and public information.

A number of projects directed at avian influenza response and control have already been completed or are in progress. Laboratory capacity projects are in progress including equipping all DIC laboratories to BSL2 standard, with RIVS (Balitvet) serving as a national BSL3 HPAI reference laboratory. All DICs have been equipped with Real Time PCR, and selected Provincial Laboratories with diagnostic equipment. Bilateral cooperation with the Australian Government includes: technician training at Geelong; training in basic and molecular virology of 16 veterinarians; laboratory information networking; introduction of a laboratory QA programme and collaborative testing on virus isolates. A large-scale Integrated National Avian Influenza Control Project is understood to be in development currently under the management of the Ministry of Agriculture and FAO with a budget approaching $USD 150 million and involving support from multiple international aid agencies and an expansive set of objectives covering a full range of issues associated with HPAI control and eradication, including participatory surveillance, blanket vaccination of Sector 3 and sector 4 backyard poultry, surveillance and epidemiology, laboratory services, animal movement control and quarantine, attention to legislative and regulatory requirements for disease control, communications and public awareness, applied research into outstanding HPAI-related matters, and development of guidelines for poultry industry restructuring.

Data source : Australian  for International Agriculture Research 2006

IVSA Congress 60th South Korea Information

We as an exchange officer IVSA of Indonesia ( Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia) inform  the name of  Indonesian veterinary student that has been selected by the Organizing Committee (EO) IVSA 60th  Congress  South Korea (have an invitation letter) and is entitled to become participants in the congres. The names of delegation from Indonesia are :

1. Herinda Pertiwi ( University of Airlangga, Surabaya) as Local President IVSA of Indonesia

2. Frismana Rama Arge ( University of Airlangga, Surabaya) as Exchange Officer IVSA of Indonesia

3. Galuh Pawestri Prameswari( University of Brawijaya, Malang ) as Veterinary Student of Indonesia

4. Endah Mulia Ningsih ( Bogor Agricultural University, West Java) as Veterinary Student of Indonesia

5.  Adi Ningrum Kurniasari  (Bogor Agricultural University, Bogor) as Veterinary Student of Indonesia

6.  Lynn Kaat Laura K (Bogor Agricultural University, Bogor) as Veterinary Student of Indonesia

7.  Resnu Caesia R. Galunggung (University of Airlangga, Surabaya) as Veterinary Student of  Indonesia

8. Helmi Adhitya (University of Airlangga, Surabaya) as Veterinary Student of Indonesia

For those names that have not been listed here and have registered our apologizes for the limited quota of delegates from each Country which has been determined by the Orgainizing Committee (EO)  IVSA 60th Congress South Korea. This all information who can we submit  and please understand. Hope to see you at some other congress or  international veterinary student event.Thankyou very much .

Best Regards,

Exchange Officer IVSA of Indonesia